Serba Serbi Homeschooling

Serba Serbi Homeschooling

Masih tentang homeschooling… banyak sekali usaha usaha yang dilakukan untuk mewujudkan homeschooling ini. Ada yang membentuk homeschooling berkelompok (komunitas homeschooling) ada pula yang memperjuangkan homeschooling secara pribadi dan memanggil guru privat untuk pelajaran pelajaran tertentu. Para ‘pejuang homeschooling’ memiliki komunitas sendiri yang terkadang bertemu dalam jangka waktu tertentu untuk berdiskusi, tukar info, dll. Setiap homeschooler mempunyai cara masing masing untuk belajar. Ada yang sudah memiliki jadwal teratur, ada pula yang dibiarkan mengalir begitu saja. Kebanyakan merujuk pada metoda homeschooling yang ada di barat.

Dibawah ini ada cerita tentang metoda homeschooling yang saya dapat di internet (salah satunya ada di: http://www.early-years-homeschool.com/homeschool-method.html).

Metoda klasik

Cara belajarnya kurang lebih hampir sama dengan cara belajar di sekolah yaitu guru menerangkan, murid mendengar. Pendekatan ini dibuat dengan asumsi anak anak sampai usia 12 tahun belum dapat memahami berbagai macam fakta, tapi mereka perlu diberikan berbagai macam materi tanpa ada paksaan untuk memahaminya. (Setelah usia 12 sampai 15, anak anak dianggap sudah dapat memahami apa yang diberikan dan di atas 15 tahun dianggap mampu menerapkan apa yang telah diketahui).

Metoda Montessorri

Dirumuskan oleh Dr Maria Montessori, orang Itali yang berprofesi sebagai pendidik. Ia dianggap berhasil mendidik anak anak jalanan yang sulit untuk diatur, menjadi anak anak yang berpendidikan.Dalam metoda Montessori, faktor lingkungan dan suasana saat belajar sangat diperhatikan. Anak anak tidak dipaksa untuk belajar, tapi anak anak diajak untuk bersenang senang, bermain dan berhibur dengan mempelajari sesuatu. Setiap anak diperhatikan dan diperlakukan secara khusus sehingga tidak ada ‘proses pendidikan massal’. Setiap individu dihargai perkembangannya, dihargai hasil karyanya. Guru memiliki peran yang cukup besar dalam proses pendidikan karena ia tidak sekadar menjadi orang yang memberi materi, ia harus menguasainya, kalau perlu menjiwainya sehingga semangat dan ruh sang guru yang kuat ini dapat menyebar pada anak anak didiknya. Guru harus melewati masa training yang cukup panjang, memahami apa yang disampaikannya dan menjadi pendamping yang baik untuk anak. Selengkapnya dapat dilihat di: http://www.michaelolaf.com/CWcontents.html

Menurut pandangan saya, perbedaan metoda Montessori denagn metoda klasik adalah, Dr. Montessorri memiliki berbagai pendekatan dalam belajar, tidak sekadar menulis dan mendengar, tapi juga berbuat dan merasakan. Dr, Montesorri sangat memperhatikan lingkunagn dan suasana belajar. Deangn suasana yang menyenangkan, anak anak lebih mudah mempelajari sesuatu dan berkembang. Ia juga menyadari besarnya peran guru dalam proses belajar mengajar.

Metoda Charlotte Mason

Charlotte Maria Shaw Mason adalah pengajar di Inggris yang cukup liberal di zamannya (tahun 1800an) . Ia prihatin denagn pendidikan di Inggris yang ‘feodal’. Waktu itu pendidikan seni hanya diberikan utnuk kalangan menengah ke atas saja. Oleh sebab itu ia adalah salah satu tokoh yang memperjuangkan kesetaraan pendidikan utnuk seluruh kalangan masyarakat. Ia juga menemukan besarnya peranan orang tua dalam mendidik anak anaknya.

Metoda pengajarannya sering dilakukan dalam bentuk narasi. Buku buku pelajaran tidak sekadar memberikan fakta, tapi juga cerita, sehingga ada ‘hal lain’ yang dapat dinikmati pembacanya selain fakta fakta yang ‘kering’. Seperti Montesorri, Mason juga sangat memperhatikan perkembangan anak sehingga materi diberikan disesuaikan denagn kondisi yang dimiliki oleh anak.Mason juga mendidik anak anak agar memiliki kebiasaan kebiasaan baik (habit training) seperti, patuh, jujur, tepat waktu, kebersihan, dll. Ia juga memperhatikan pendidikan ruhani, setiap hari ada alokasi waktu untuk membaca Injil.

Metoda Charles Moore (http://www.moorefoundation.com/index.php)

Metoda belajar Charles Moore lebih fleksibel. Ia menganjurkan anak anak tidak dipaksa untuk belajar terutama untuk anak anak usia di bawah 8 tahun. Ia bahkan tidak meributkan anak anak usia 7 tahun yang belum dapat membaca. Ia beranggapan suasana dan guru yang pengertian sanagt berpengaruh dalam proses belajar. Tidak ada persyaratan yang ketat untuk menjadi seorang guru selama ia memiliki kesungguhan dan perhatian yang besar terhadap anak didiknya. Ada 3 formula yang diberikan pada murid murid yaitu :

1. Belajar

Belajar tidak perlu dipaksakan dan dilakukan dalam suasana yang menyenangkan. Setiap anak diberi kebebasan untuk mengembangkan minat masing masing karena dengan cara ini mereka lebih cepat berkembang dan termotivasi untuk mengetahui sesuatu lebih jauh. Materi pelajaran yang diberikan tergantung dari usia, terkadang 10 sampai 15 menit sudah cukup, sisanya diserahkan pada anak anak sendiri. Materi pelajaran diseleksi, demikian juga alat peraga dan mainan. Permainan yang pasif atau materi pelajaran yang kaku dan mendikte perlu dihindari.

2. Bekerja

Menurut Moore, setiap anak perlu dibiasakan untuk ‘bekerja’ (atau berbuat?). Contohnya dengan mengerjakan pekerjaan sehari hari di rumah, berjualan kue, menjadi pengasuh anak, dll. Segala pekerjaan yang membangun, melatih keterampilan, keberanian, perlu untuk dibuat. Dari sini mereka belajar langsung tentang manajemen, matematika, ilmu sosial, keterampilan, dll.

3. Pengabdian

Murid dilatih untuk membantu orang di panti asuhan, panti jompo dan membantu menyelesaikan permasalahan di lingkungannya seperti masalah sampah, kesehatan, dll.

Metoda Waldorf (http://www.steiner-australia.org/)

Pendirinya adalah Dr Rudolf Steiner, seniman yang merangkap scientist dari Austria yang diminta utnuk membangun sekolah di pabrik rokok Waldorf Stuttgart, nama sekolahnya Die Freie Waldorfschule. Materi sekolah sangat disesuaikan denagn usia, perkembangan dan individu anak. Tidak ada target yang dipaksakan untuk anak, anak diajak untuk belajar dalam suasana yang menyenangkan. Anak anak yang dibesarkan denagn cara ini mencapai hasil akademik yang baik dan sebagian besar mampu melanjutkan ke jenjang universitas favorit di Australia.

Metoda Unschooling

Intinya tidak terlalu pusing dengan target target fisik seperti yang dilakukan di sekolah biasa.

Metoda campur sari/ eklektik

Metoda yang bebas, tergantung pada sang pendidik.

Dari berbagai metoda yang pernah dibuat, hampir terdapat beberapa kesamaan yaitu:

  • Para pendidik menyadari bahwa mendidik bukan cuma memberikan materi lewat logika, namun juga perlu dilakukan lewat rasa seperti lewat seni, sastra, dll
  • Didikan penuh kasih sayang, suasana yang menyenangkan, lingkungan yang baik, sangat membantu proses belajar anak.

Saya sebagai pengamat pendidikan memiliki satu pertanyaan, apakah dengan memilih salah satu metoda di atas, anak saya dapat selamat di dunia dan akhirat??

One Comment to “Serba Serbi Homeschooling”

  1. dapat pak….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: